Sebulan terakhir ini, kosakata Karuna bertumbuh pesat. Dalam sehari bisa ada 4 - 8 kata atau kalimat baru, yang muncul begitu saja saat dia sedang bicara, ditanya, atau tiba-tiba nimbrung di percakapan saya dengan suami. :D
Misalnya, tiba-tiba Runa bilang, "mau mamam buah jambu", saat ditanya mau makan buah apa. Atau, tiba-tiba dia bilang, "white", saat saya memintanya mendongak melihat warna lampu di kamar mandi.
Penambahan kosakata yang semakin pesat ini sepertinya menandai puncak fase "language explosion" alias "ledakan bahasa" Karuna. Di berbagai artikel tentang aspek bahasa dalam tumbuh kembang yang pernah saya baca, fase ledakan bahasa biasanya mulai menunjukkan tanda-tandanya di usia 18 - 24 bulan, atau begitu anak bisa mengucapkan 50 kata.
Sesuai teori, proses mencapai 50 kotakata ini berlangsung pelaaan sekali. Kata pertama Runa seingat saya adalah "bapak" (...dan membuat saya merasa antara bahagia karena anak mulai bisa ngomong dan sedih karena kata "bapak" terucap duluan, padahal saya sebagai ibunya lah yang momong dia seharian! hahaha) dan "jerapah" yang terjadi di sekitar usia 8 bulan. Dari kata pertama itu menuju 50 kata, buat dibutuhkan waktu sekitar 10 bulan. Pada teori ledakan bahasa, selepas 50 kata tercapai, anak semakin mudah meniru dan mengucapkan kata-kata baru lainnya, dan kemampuannya akan semakin memuncak hingga akhirnya si batita bertumbuh menjadi manusia dewasa yang menguasai setidaknya 60.000 kata. Luar biasa banget ya, menyadari lagi bagaimana Tuhan menciptakan manusia dengan kecerdasannya?
![]() |
| Rajin mengajak anak ngobrol dan membacakan buku adalah 2 hal yang disarankan oleh para dokter anak dan psikolog tumbuh kembang untuk stimulasi kemampuan berbahasa anak. |
Proses ledakan bahasa sebetulnya terjadi setelah anak berbulan-bulan menyerap berbagai kata dan kalimat yang dia dengar, menjalani proses memahami makna dan konteks pemakaiannya, hingga akhirnya siap mengucapkan kata-kata yang selama ini tersimpan di memorinya sesuai konteks percakapan.
Seperti spons, anak menyerap kosakata baru ketika orang-orang di sekitarnya (terutama orang yang mengasuhnya) bicara. Karena itulah, artikel tumbuh kembang dan para dokter spesialis anak menegaskan pentingnya berbicara dengan anak dan membacakan buku.
Pada Runa, kosakata yang muncul campuran Bahasa Indonesia, Inggris, dan... sedikiiit bahasa Jawa. Persis seperti bapak - ibunya, yang memang menggunakan 3 bahasa itu untuk ngobrol sehari-hari.
Karuna cenderung menggunakan kata yang lebih mudah diucapkan, misalnya, dia memilih memakai kata "cat" daripada "kucing", dan "gajah" daripada "elephant". Dia juga memilih memakai kata "white" daripada "putih", "red" daripada "merah", "blue" daripada "biru", "black" daripada "hitam", dan lain-lain. Kebetulan, saya dan Rio memang mengajarkan Bahasa Indonesia dan Inggris sekaligus, dan buku serta tontonan Runa di Youtube sebagian besar memang berbahasa Inggris.
Buat saya, fase ledakan ini menarik dan menggemaskan sekali. Perasaan baru kemarin dia menjadi bayi yang belum bisa berkomunikasi selain dengan tangisan... eh, hari ini dia mulai bisa mengatakan apa yang dia mau dengan sangat jelas dan mengungkapkan perasaannya. Misalnya, suatu malam, Karuna menucapkan "I love you" sambil memeluk saya. Hati ibuk meleleh naaak... ^_^
Di hari yang lain, setelah bisa mengucapkan kata, "happy", Karuna mengucapkan banyak hal dengan menggunakan kata "happy", misalnya, "mamam, happy"
"Nenen, happy"
"Main, happy."
Dan, suatu siang, setelah buang air besar, ia berucap, "ternyata, pupup happy." :D
Meski kosakata Runa terus bertambah, mendengar kata baru tetaplah terasa istimewa. Saya dan suami biasanya saling berkabar begitu Runa mengucapkan kata barunya. Tapi, kadang kesibukan buibu rempong membuat saya lupa, apa kata baru yang diucapkan Karuna. Sehingga, cerita saya sering berakhir seperti ini: "Mas, tadi Runa punya kata baru lagi, tapi aku lupa dia bilang apa."
Ngeselin kan? Hahahaha
Akhirnya, saya menuliskan kata-kata baru Runa di secarik kertas yang ditempel di pintu kulkas. Awalnya, kertas yang saya pakai seadanya, dari sobekan resep sampai di lembar catatan DSA Runa.
![]() |
| Catatan kosakata baru Karuna di pintu kulkas. Masih seadanya tapi setidaknya membantu kami mengingat kosakata baru yang terucap di hari itu. |
Cara lain agar saya tidak lupa dan Runa makin semangat memakai kosakata barunya adalah dengan mengajak Runa memakai kata barunya berkali-kali. Misalnya, begitu Runa bisa mengucapkan kata "white", saya mengajaknya mengenali objek-objek berwarna putih di sekitarnya. Kebetulan kata "white" pertama Runa terucap saat sedang mandi. Maka saya menunjuk toilet, wastafel, pintu, baju, sambil bertanya, "nak, toilet warnanya apa?"
"kalau wastafel ini warnanya apa ya?"
"WHITE.", jawab Runa dengan semangat
"pintu ini warnanya..."
"WHITE"
"Runa ingat nggak, warna kesukaan ibu apa?"
"WHITE"
Dan seterusnya. Runa pun senang sekali mengulang kata-kata barunya.
Jujur, saya belum tahu bagaimana nanti susunan bahasa yang baik dan benar dalam masing-masing bahasa akan tercapai. Yang jelas, saya dan Rio selalu berusaha mengajak Runa berkomunikasi dalam kalimat dalam bahasa Indonesia yang utuh, atau kalimat berbahasa Inggris yang utuh, supaya dia terbiasa mendengar contoh kalimat lengkap yang baik dalam masing-masing bahasa.
Meski tatabahasa Runa masih jauh dari standard kesempurnaan kaidah bahasa Indonesia maupun Inggris, hal ini sangat wajar untuk usia semuda ini. Kemampuan berkomunikasi yang makin membaik seiring dengan penambahan kosakata baru inilah yang patut disyukuri.
Perjalanan menyempurnakan kemampuan berbahasa masih panjang, dan saya dengan senang hati akan terus membantu dan mendampingi Karuna menjalaninya. :)
*******
Catatan:
Laju tumbuh kembang anak berbeda-beda. Bila dirasa ada hambatan kemampuan bahasa, berkonsultasi dengan praktisi tumbuh kembang (dokter atau psikolog) tetaplah pilihan terbaik.
Beberapa artikel sumber tentang language explosion:
Toddler 'word spurts' are guaranteed
Psychologist explains the secret of children's words explosion

