Pandemi Covid-19 ini membawa banyak hal baik bagi saya dan keluarga. Dari punya lebih banyak waktu bersama-sama, punya lebih banyak tenaga untuk belajar dan nge-blog lagi, berkebun sayur di rumah lagi, sampai belajar gluten-free baking, belajar taksonomi araceae, upgrade teknik melukis botani, membuat ramuan herbal, dan kursus instagram organik!
![]() |
| Karena pandemi, kebun sayur rumahan saya bersemi kembali :) |
Saya yakin, banyak yang setuju kalau saya menyebut 2020 sebagai tahun yang "istimewa". Di usia yang sudah 41 tahun ini saya pikir saya sudah mengalami dan melihat begitu banyak hal. Namun, segala hal baru yang terjadi selama pandemi Covid-19 adalah hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Tak terasa, Desember sudah separuh terlewat. Bulan ini adalah bulan ke-sembilan sejak begitu banyak aktivitas yang biasanya melibatkan pertemuan fisik ditiadakan atas nama social distancing demi menjaga jarak aman. Anjuran #dirumahsaja yang di tiga bulan pertama pandemi begitu gencar diserukan, kini mulai banyak ditinggalkan. Banyak sudah yang mengeluh kangen bersosialisasi, jalan-jalan, dan sebagainya. Seorang teman yang memang tinggal sendirian bahkan bilang, dia merasa nyaris depresi selama masa-masa #dirumahsaja.
Sebagai orang dengan autoimun (ODAI), saya tidak berani lengah. Menjaga jarak, rajin mencuci tangan atau hand sanitizer dan menggunakan masker adalah hal yang saya taati dengan sungguh-sungguh. Saya tahu diri, sistem imun saya berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Meski di tahun 2009 - saat masih tinggal di AS - saya berhasil sembuh dari Swine Flu ketika wabahnya merebak di negara bagian New York, tak ada yang bisa menjamin saya akan sanggup menyintas wabah Covid-19. Dengan tubuh yang sudah berbeda dan konsumsi obat-obat immunosuppresant yang menekan kekebalan tubuh saat ini, saya termasuk dalam kategori orang yang berisiko tinggi. Maka, saya harus serius menjaga diri.
Untungnya, social distancing dan #dirumahsaja sudah jadi bagian dari hidup saya, jauh sebelum era Covid-19. Tinggal di apartemen selama 7 tahun, lalu disusul kepindahan kami ke sebuah perumahan baru yang masih sepi penghuninya juga membuat saya sangat terbiasa dengan ketiadaan orang lain. Sebagai seorang introvert, rumah, sudut baca, kebun, dapur dan sendirian saja adalah zona nyaman saya.
Kehidupan sebagai penyintas autoimun dan ibu dari seorang bayi juga membuat saya banyak di rumah saja. Sehingga, mungkin satu-satunya hal yang saya rindukan dari masa sebelum Covid adalah nyamannya bepergian tanpa harus memakai masker dan tanpa rasa was-was. Sungguh, saya rindu perasaan nyaman itu.
Bantuan di rumah
Untungnya, pandemi ini buat saya, juga membawa banyak hal baik. Kebijakan work from home dari kantor Rio, suami saya, membuat saya mendapat lebih banyak bantuan untuk mengasuh anak dan mengurus rumah, terutama di pagi hari sebelum dia mulai bekerja, dan di jam istirahat siang.
Usai jam kantor, Rio juga bisa langsung bergabung dengan saya dan Karuna. Membawa Karuna ke taman bermain, berenang, atau sekedar jalan-jalan sore, lalu makan malam dan memandikannya akhirnya menjadi rutinitas yang menyenangkan buat kami sekeluarga. Runa bisa lebih banyak bermain bersama bapaknya, sementara saya bisa selonjoran sejenak, bebersih, merawat tanaman, memasak makan malam atau membuat kudapan.
![]() |
| Anak dan bapak berenang, ibu bisa selonjoran. :) |
Bisa bersantai di sore hari adalah sebuah kemewahan, karena sejak Karuna lahir saya biasanya mengurus banyak hal di rumah sendirian. Selama masa WFH, karena mendapat bantuan Rio, di malam hari saya pun tak terlalu capek. Maka, saya jadi punya tenaga untuk belajar, menulis, melukis, dan membuat blog ini. :)
Berkebun sayur lagi
Masa-masa awal pandemi membuat saya selalu kehabisan stok sayur organik dan hidroponik di marketplace sayur dan buah langganan. Di saat masih tidak nyaman bertemu orang dan berbelanja di luar rumah, kehabisan sayur di dunia maya sungguh merepotkan.
Akhirnya, setelah hampir 2 tahun berhenti dari aktivitas edible gardening (berkebun tanaman yang bisa dimakan) sejak hamil Karuna, sejak bulan April lalu saya mulai berkebun sayur lagi di rumah.
Sebagai sesibu beranak kecil dan tak ber-ART, saya memilih cara berkebun yang paling gampang perawatannya: hidroponik. Saya biasa menyemai benih di malam hari setelah Karuna terlelap.
![]() |
| Kebun sayur kecil kami |
Merawat benih yang tumbuh menjadi bibit pun gampang: tinggal taruh baki semaian di tempat yang terpapar matahari. Setelah 14 hari, bibit-bibit sayur mungil itu tinggal dipindah ke sistem hidroponik, diairi larutan nutrisi dengan pompa, sehingga saya tidak perlu repot meluangkan waktu untuk menyiram tanaman. 14 kemudian, panen. Iya, semudah dan sepraktis itulah hidroponik menurut saya. Alhamdulillah, benih-benih yang berbulan-bulan menunggu di kulkas dan lewat masa kadaluarsanya pun masih mau tumbuh.
Belajar daring
Selain lebih banyak mendapat bantuan di rumah dan berkebun sayur lagi, bagi hal yang paling menyenangkan selama pandemi adalah berlimpahnya kesempatan belajar daring.
Bergabung dengan komunitas-komunitas pembelajar sesuai minat dan hobi membuat saya banyak menemukan kesempatan belajar yang menarik. Selama pandemi ini saya sempat ikut kursus-kursus yang topiknya beraneka ragam, mulai dari membuat aneka kue dan roti gluten-free, belajar teknik melukis botani bersama teman-teman di Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) - komunitas seniman botani Indonesia, membuat ramuan herbal untuk kesehatan keluarga bersama dr. Prapti Utami, M.Si, workshop taksonomi tumbuhan bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hingga kursus online Instagram organik bersama Niko Julius - praktisi digital marketing panutan saya.
Sebetulnya masih banyak peluang kursus lain yang saya temukan di komunitas-komunitas yang saya ikuti, namun saya hanya memilih kursus-kursus yang sesuai dengan minat dan waktu yang saya miliki.
Upgrade kemampuan gluten-free baking
Di tahun 2020 ini, ilmu gluten free baking saya meningkat pesat berkat empat kelas daring tentang gluten free baking yang sudah saya ikuti. Berkat ilmu tentang formula kue gluten free dari kursusnya Mbak Ade Sri - pemilik bakery Goodiebake, saya sudah bisa mengobati kerinduan makan roti beragi dan menikmati cake gluten-free (GF) buatan sendiri yang enak. Selain medapat pujian dari suami, anak, dan teman-teman yang sudah mencicipi kue gluten-free buatan saya, sudah ada juga yang bertanya, "kapan nih, buka PO?" Haha, asik, jadi makin pede dengan rencana buka usaha kue GF nih! :)
Di ulang tahun Karuna dan Rio tahun ini, saya berhasil membuat cake bebas gluten yang enak banget untuk base kue ulang tahun mereka. Senang dan bangga rasanya, bisa membuat cake ultah yang enak dan cakep untuk orang-rang yang saya cintai.
Ilmu mengulik formula cake membuat saya yang masih sangat baru di dunia bebikinan kue kini sudah bisa membuat konversi resep cake berbahan terigu menjadi rese berbahan tepung GF membuat ogura cake yang empuk menul-menul, mandarin cake yang lembut dan moist, sponge cake, cheese cake, roti tawar, burger bun, bahkan Korean garlic cheese bread yang sedang populer itu - semuanya versi gluten free!
![]() |
| 2 dari beberapa kelas masak gluten-free yang saya ikuti selama pandemi |
Bisa membuat sendiri kue dan roti gluten fre yang enak adalah hal PENTING buat saya. Selama lima tahun terakhir ini saya ingin sesekali bisa menikmati cake dan roti yang enak, namun alergi gluten yang saya miliki membuat saya tidak bisa mengkonsumsi cake dan roti yang umumnya terbuat dari terigu. Sebetulnya saya tidak butuh menikmati kue tiap hari juga, sih. Tapi, sesekali, kangen rasanya menikmati kue yang rasanya familiar, atau breakfast bun hangat beroles butter yang lembut dan creamy. :D
Gluten free baking adalah hal yang menantang. Tepung-tepung GF punya karakteristik yang jauh berbeda dengan terigu. Aromanya, rasanya, hingga sifatnya yang tidak bergluten membuatnya tidak mudah diolah untuk menyerupai kue-kue berterigu pada umumnya... kalau kita tidak punya ilmunya.
Sejak alergi gluten saya memburuk, di tahun 2015 saya mulai berusaha memodifikasi resep berbagai kue menggunakan tepung GF. Tepung pisang, tepung sorghum, tepung almond, tepung kelapa, tepung singkong, tepung beras coklat, tepung beras merah, semua sudah saya coba dan berakhir dengan kue yang bantat, kering, keras, atau aneh rasanya. 😅 Kue berbahan tepung almond masih lumayan empuk dan enak sih... tapi apa iya, hidup GF membuat saya jadi harus bergantung pada produk impor yang harganya selalu menanjak kalau dollar sedang menguat?
Kursus gluten-free baking yang saya ikuti menggunakan tepung-tepung GF berbahan singkong, jagung, beras. Terpujilah para petani Indonesia, produsen tepung-tepung ini, dan guru-guru saya.
Kelas herbal untuk keluarga
Dari kursus-kursus lain, saya juga mendapat banyak manfaat. Kelas herbal untuk keluarga yang diadakan dan diampu langsung oleh dr. Prapti Utami, M. Si - seorang dokter yang mendalami ilmu herbal ini - membuat saya mampu meramu minuman dari aneka rempah yang mudah didapatkan di pasar, enak rasanya, sekaligus memahami cara pengolahan yang benar dan manfaat berbagai rempah.
Belajar bersama IDSBA
Di komunitas IDSBA yang merupakan komunitas seniman botani Indonesia, masa pandemi ini juga membuat sesi belajar mandiri dan berbagi (BMB) makin kerap diadakan. Dengan anggota yang beragam latar belakang ilmu dan teknik melukisnya, sesi belajar bersama IDSBA pun jadi beragam topiknya, mulai dari belajar rentang ilustrasi botani, mendalami teknik melukis dengan pensil warna dan mixed media, melukis tekstur, hingga melukis mandala dan menyulam!
![]() |
| 2 dari sekian banyak sesi belajar teknik melukis botani berkualitas bersama IDSBA |
Meski saya ketinggalan lebih dari separuh sesinya atau mengikuti sambil sesekali momong anak, kesempatan belajar hal baru selalu menyenangkan. Asiknya lagi, rekaman sesi-sesi BMB ynag sungguh berfaedah itu kemudian diunggah di laman Facebook khusus anggota, sehingga orang-orang seperti saya bisa menontonnya di lain hari.
Kursus Instagram Organik
Saya tertarik mengikuti kursus ini sejak melihat iklan Kelas Instagram Organik (KIO) bersama Niko Julius di Instagram (yak, inilah bukti betapa efektifnya IG ads untuk menjangkau audience yang memang disasar!). Selama ini saya memang penasaran, bagaiman acara efektif mengembangkan IG hingga menarik banyak followers.
Melihat deskripsi kelasnya, saya langsung mendaftar. Ternyata tidak sia-sia, ilmu yang diberikan oleh Ko Niko memang daging semua. Saya yang cuma sempat belajar saat anak sudah tertidur sampai betah begadang saking menariknya materi yang diajarkan. Membuka puluhan modul kursus yang dibuatnya, saya yang sudah lama tidak meng-upgrade ilmu tentang sosial media ini merasa mendapat banyak pencerahan.
Saya suka ide tentang membangun akun instagram dengan follower organik yang diajarkan oleh Niko Julius. Untuk menarik followers, Niko menjabarkan algoritma Instagram, mengajarkan cara-cara membuat konten yang baik dan menarik, dan mengajak peserta kursusnya membuat akun instagram yang memang bermanfaat.
Yang juga bermanfaat dari KIO adalah kesempatan belajar bersama melalui grup Telegram khusus member dan sesi-sesi belajar tiap Jumat malam bersama berbagai narasumber yang sudah "mapan" di media sosial. Belakangan saya juga baru tahu kalau ada kesempatan untuk mendapat penghasilan melalui program afiliasi untuk member.
***
Saya tak bisa membayangkan bagaimana saya akan mampu mengikuti semua kursus itu bila diadakan offline. Selain tidak ada yang membantu momong Karuna di rumah, saya juga masih menyusui batita lucu ini. Kalau semua kesempatan belajar itu dilakukan offline, mungkin akan sulit bagi saya untuk bisa mengikutinya. Covid-19 membuat kesempatan belajar jadi lebih memungkinkan untuk diambil.
Saya adalah orang yang meyakini bahwa di masa-masa sesulit apapun, pasti ada sisi baik yang bisa muncul. Meski beberapa periode hidup kita mungkin tampak suram dan buruk, saya juga yakin, selalu ada kesempatan dan cara untuk membuatnya lebih baik dan menyenangkan untuk dijalani.
Menurut pengalaman teman-teman, apa sisi baik masa pandemi ini?
*****
















