 |
Salah satu tahapan penting penegakan diagnosis penyakit autoimun adalah pemeriksaan laboratorium.(Foto: Pixabay )
|
Bagaimana pemeriksaan penyakit autoimun dilakukan, dan apa saja yang perlu disiapkan oleh pasien adalah hal yang sering ditanyakan oleh orang-orang dengan gejala penyakit autoimun yang ingin mendapatkan diagnosis dan menjalani pengobatan. Di tulisan ini saya mencoba merangkum tahapan pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter yang akhirnya menegakkan diagnosis penyakit autoimun, berdasarkan pengalaman pribadi saya selama menjalani pemeriksaan autoimun dengan beberapa dokter*, dan dari tulisan dr. Yusuf Aulia Rahman, Sp.PD di buku Autoimmune – the True Story.
Perlu dipahami bahwa penyakit autoimun bisa muncul di berbagai bagian tubuh,
mulai dari kulit, tulang, sendi, otot, darah, ginjal, saluran pencernaan,
hingga otak dan jantung. Karena bisa menyerang banyak organ dan muncul dengan
bermacam gejala yang menyerupai penyakit-penyakit lain, tidak jarang orang yang
mengalami berbagai gejala tersebut - termasuk saya - harus menempuh jalan panjang
hingga akhirnya mendapatkan diagnosis autoimun.
Berbagai artikel tentang penyakit autoimun mengakui bahwa
diagnosis penyakit autoimun tergolong sulit karena gejalanya yang begitu
beragam dan bisa berbeda-beda pada setiap orang. Sifat penyakit autoimun yang kronis atau menahun membuat bermacam
gejalanya bisa datang dan pergi. Ada tahun-tahun di mana saya seolah tidak
mengalami apa-apa, meski kalau dirunut ke belakang, tak ada tahun yang terlewat
tanpa singgah ke ruang periksa dokter. Ada pula tahun yang berat di mana saya
bisa dirawat di RS sampai 3 kali. Saking panjangnya, cerita lebih lengkap tentang
perjalanan saya hingga mendapatkan diagnosis penyakit autoimun akan saya tulis di
artikel terpisah. 😊
Tahap 1: Wawancara Medis
Sampaikan keluhan dan gejala yang dirasakan dengan jelas
Tahap ini dimulai saat kita bertemu dengan dokter yang akan memeriksa kita. Penegakan diagnosis autoimun biasanya dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki keahlian di bidan alergi imunologi (dokter dengan sub-spesialisasi ini bergelar SpPD-KAI), reumatologi (dokter dengan sub-spesialisasi ini bergelar SpPD-KR), atau hematologi (dokter dengan sub-spesialisasi ini bergelar SpPD-KHOM).
Artikel terkait: Ke Dokter Apa Periksa Autoimun?
Di ruang konsultasi, dokter biasanya
memulai percakapan dengan bertanya, “ada keluhan apa, pak/bu?”
Di tahap ini, yang
terjadi adalah dokter berusaha menggali informasi hingga memahami gejala apa
saja yang muncul dan dirasakan, serta bagian tubuh mana yang bermasalah.
Kadang perasaan gugup melanda saat kita
bertemu dengan dokter yang baru dikenal, sehingga saat keluar dari ruang
praktek, kita baru sadar kalau kita lupa menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan. Untuk mencegah hal ini, sebelum bertemu dokter kita bisa membuat catatan yang merangkum apa saja keluhan yang dirasa paling mengganggu. Kepada dokter, kita menunjukkan di bagian tubuh sebelah mana yang sakit, seperti apa rasa sakitnya (apakah seperti ditusuk, berdenyut, dsb.), dan gangguan
kesehatan apa yang kita alami (misalnya muntah, sariawan, mimisan).
Ingat riwayat penyakit
Ingat juga kapan keluhan muncul dan apakah
ada riwayat penyakit yang perlu diketahui dokter. Hal ini akan membantu dokter
untuk memiliki gambaran lebih jelas apakah penyakit kita merupakan penyakit
kronik atau bukan.
Sebelum bertemu dokter, kita juga perlu membuat catatan kronologis munculnya gejala. Catatan ini membantu kita menyampaikan riwayat penyakit ke dokter secara runut, sesuai
urutan waktu kejadiannya. Catat dan sampaikan juga semua jenis pemeriksaan,
hasil diagnosis yang pernah diterima, dan pengobatan yang telah diberikan.
Kumpulkan dan bawa hasil pemeriksaan sebelumnya
Bila
sebelumnya kita menjalani pemeriksaan di tempat lain (rumah sakit lain dan dokter
lain), bawa juga semua hasil pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, dan
hasil-hasil pemeriksaan lain yang kita miliki. Hal ini akan membantu dokter
mengetahui bagaimana kondisi kita, dan pemeriksaan apa lagi yang masih
diperlukan.
Biasanya saya mengumpulkan semua hasil
pemeriksaan terdahulu dalam satu map, dan memberikannya ke dokter. Bila dirasa perlu, maka dokter akan meminta kita periksa lagi. Kadang pemeriksaan lab atau diagnostik lainnya dirasa dokter sudah cukup dan tidak perlu diulang. Dengan membawa hasil pemeriksaan sebelumnya, ada kemungkinan kita menghemat biaya. Berbeda halnya bila kita datang tanpa membawa
copy hasil pemeriksaan penunjang apapun. Seringkali ada pemeriksaan-pemeriksaan
yang sebetulnya sudah kita lakukan, tapi dokter meminta untuk dilakukan lagi.
Ingat riwayat penyakit di keluarga
Ingat dan sampaikan juga apakah ada anggota
keluarga atau kerabat dekat yang memiliki keluhan serupa/sudah terdiagnosis
autoimun. Riwayat penyakit autoimun dalam keluarga adalah informasi penting
yang perlu diketahui oleh dokter, mengingat kasus autoimun memang kadang
ditemukan pada beberapa orang dalam garis keluarga yang sama.
Sampaikan kebiasan hidup dengan jujur
Sampaikan juga bagaimana
kebiasaan hidup kita. Misalnya, bagaimana pola kerja dan istirahat kita,
obat-obatan, jamu, atau suplemen apa
yang kita minum, apakah kita merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol, dan
sebagainya.
Jujurlah menyempaikan riwayat
kesehatan dan pola hidup kita. Saat rasa sungkan atau malu melanda, coba ingatkan
diri sendiri bahwa dokter sedang mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi penting
yang nantinya akan disimpulkan ke dalam suatu diagnosis untuk membantu proses
pemulihan kita.
Tahap 2: Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dokter untuk
mengkonfirmasi keluhan yang kita sampaikan saat wawancara medis. Misalnya,
bila kita mengeluh ada sendi yang ngilu, maka dokter akan memeriksa bagian
sendi yang kita rasa sakit. Bila kita mengeluhkan rasa sakit di perut, maka
dokter akan memeriksa perut secara menyeluruh, mulai dari melihat tampilannnya,
melakukan perabaan untuk memeriksa adanya pembesaran di bagian tertentu,
mengecek apakah ada bagian-bagian tertentu yang sakit saat ditekan, dan
sebagainya.
Untuk membantu dokter melakukan pemeriksaan
dengan baik, berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai pasien:
- Memakai pakaian yang nyaman, mudah dilepas dan
dipakai lagi
- Menunjukkan bagian mana yang terasa sakit
- Berupaya memberi nilai rasa nyeri yang dirasakan,
misalnya dengan skala 0 – 10, dengan 0 berarti tidak sakit sama sekali, dan 10
adalah nyeri terhebat yang pernah kita rasakan.
Tahap 3: Pemeriksaan Penunjang
Setelah mendapat informasi dari wawancara
medis dan pemeriksaan fisik, untuk menegakkan diagnosis penyakit autoimun
dokter biasanya juga meminta pasien melakukan pemeriksaan penunjang. Beberapa pemeriksaan
penunjang yang mungkin dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium, radiologi, biopsi
dan pemeriksaan patologi anatomi.
Pemeriksaan laboratorium contohnya adalah pemeriksaan
darah, urine dan feses. Pemeriksaan radiologi contohnya pemeriksaan rontgen,
ultrasonografi (USG), Computed Tomography (CT) scan, dan Magnetic Resonance
Imaging (MRI). Sementara biopsi adalah pengambilan sebagian organ untuk
diperiksa di bawah mikroskop.
Seluruh pemeriksaan penunjang yang diminta
oleh dokter ini diperlukan untuk menegakkan diagnosis, mengetahui derajat
aktivitas penyakit, menentukan rencana pengobatan, hingga evaluasi efektivitas
pengobatan.
Tentang Biaya
Pemeriksaan penunjang untuk penyakit
autoimun, terutama di tahap awal saat dokter masih mencari jenis penyakit dan
tingkat aktivitas penyakit kita, biasanya memerlukan biaya yang relatif mahal.
Sebagai gambaran, berdasarkan
pengalaman saya, di tahun 2017 total biaya tes darah yang diperlukan untuk
menegakkan diagnosis lupus saja mencapai 8 juta rupiah. Di samping itu, ada tes penunjang lain yang mungkin dibutuhkan seperti USG dan MRI, dan biaya-biaya
lain seperti biaya konsultasi dokter.
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut tidak tersedia di semua
rumah sakit, sehingga pasien kadang perlu ke laboratorium klinik swasta atau rumah sakit
yang lengkap perangkat pemeriksaannya. Biasanya, sebelum memutuskan di mana saya akan melakukan pemeriksaan penunjang, saya menanyakan detail biaya pemeriksaan terlebih dahulu, supaya bisa berhitung berapa selisih pertanggungan asuransi yang perlu saya bayar sendiri.
Ketika diminta periksa menggunakan MRI misalnya, saya menelepon beberapa rumah sakit yang memiliki fasilitas MRI di Jakarta dan membandingkan harga. Hasilnya, saya menemukan bahwa melakukan MRI di RSCM paling murah, bahkan selisihnya bisa mencapai lebih dari 1 juta rupiah dari tarif di rumah sakit lain.
Akan sangat membantu bila kita memiliki asuransi yang bisa
menanggung biaya-biaya pemeriksaan penunjang, baik itu BPJS maupun asuransi
swasta. Meski memiliki asuransi, akan sangat baik bila kita teliti mencatat biaya-biaya pemeriksaan, agar tidak terkejut menerima pemberitahuan harus membayar selisih biaya yang tidak tertanggung oleh asuransi kita.
Bergabung dengan support group autoimun juga dapat membantu meringankan biaya pemeriksaan penunjang. Pemegang kartu anggota Yayasan Lupus Indonesia (YLI) dan Marisza Cardoba Foundation (MCF) misalnya, bisa mendapat diskon di laboratorium Prodia.
Mengapa Perlu Diagnosis yang Tepat
Kabar baiknya, setelah dokter berhasil menemukan jenis
penyakit autoimun kita dan tingkat keparahannya, maka pengobatan yang terarah
pun bisa dimulai. Diagnosis penyakit autoimun, meski awalnya terasa berat dan menyedihkan,
adalah hal yang akhirnya sangat saya syukuri. Dengan tegaknya diagnosis,
teka-teki akan beragam penyakit yang datang dan pergi dalam hidup saya telah
terjawab. Akarnya adalah penyakit autoimun.
Ada beberapa orang yang saya tahu, yang cenderung menunda bertemu dengan dokter atau
takut menjalani pemeriksaan....karena takut menerima hasilnya. Mungkin teman-teman
yang sedang membaca tulisan ini ada yang merasakan hal yang sama.
Bagi saya sih, lebih
baik tahu apa yang terjadi dalam tubuh kita sehingga kita bisa segera
merawatnya, daripada hanya menebak-nebak dan galau berkepanjangan. Kalau masih takut, yuk, coba kuatkan
hati, berdoa meminta yang terbaik, dan jalani dulu langkah pertama yang
diperlukan: mencari jawaban. Mencari diagnosis.
Setelah menjalani pengobatan, kondisi saya jauh membaik dan menjadi
stabil. Sudah tiga tahun saya tak perlu
dirawat inap karena sakit. Ketika akhirnya hamil kembali setelah sempat mengalami
dua kali keguguran, kehamilan ketiga saya pun dapat dijaga dengan
sebaik-baiknya, hingga Karuna terlahir sehat.
Apakah dengan tegaknya diagnosis penyakit autoimun, berarti kita
harus minum obat seumur hidup?
Belum tentu. Bila kita mampu menjaga kesehatan secara
menyeluruh, disiplin makan makanan yang sehat dan “bersih”, rutin berolahraga, cukup
istirahat, mampu mengelola stress, kondisi tubuh akan membaik dan perlahan dosis obat bisa
diturunkan. Bahkan, beberapa teman penyintas autoimun yang mampu menjalankan kebiasaan
hidup sehat sudah bisa lepas dari obat selama bertahun-tahun.
Saya akan menulis tentang pilar-pilar hidup sehat yang telah dipraktekkan oleh teman-teman penyintas penyakit autoimun
di komunitas saya, dan membuat kami bisa hidup lebih sehat. Nantikan juga tulisan saya
tentang ke dokter apa untuk periksa autoimun di artikel lain, ya! J
*****