Pak, Bu, pernah terbayang nggak, apa yang perlu kita lakukan ketika anak sakit dan perlu dirawat inap di masa pandemi Covid19? Bagi saya, dalam kondisi seperti ini membawa anak ke tempat umum saja rasanya tidak nyaman, apalagi memikirkan bagaimana dia akan dirawat di rumah sakit.
Minggu lalu, kami akhirnya mendapat pengalaman mendampingi anak menjalani rawat inap di masa pandemi. Semoga cerita ini bisa memberi gambaran, apa saja yang bisa terjadi dan prosedur apa yang perlu kita jalani bila ternyata anak atau kerabat kecil kita perlu dirawat di saat angka penularan Covid-19 masih tinggi di negeri ini.
Sabtu (10/20/2020) pagi, Karuna, putri kami yang masih berusia 2 tahun aktif luar biasa. Dia bangun jam 4 pagi, minta jalan-jalan, bermain di sasana olahraga di kompleks perumahan kami, berenang, lalu ikut-ikutan bermain ping pong ketika tetangga-tetangga kesayangannya bermain. Tak disangka, siang harinya dia menolak makan dan minum. Suhu tubuhnya naik hingga di kisaran 38˚C. Hingga Minggu malam ia masih menolak makan dan minum. Hanya 4 sendok kecil bubur dan sekitar 50 ml juice yang berhasil kami suapkan. Bahkan, ketika akhirnya Karuna mau disusui, tak lama kemudian dia muntah.
Dengan asupan makanan dan minuman sesedikit itu, tanda-tanda dehidrasi mulai tampak jelas. Bibirnya mulai kering, badannya lemas, dan popoknya kering meski telah dipakai berjam-jam.
Ketika DSA Langganan Tak Lagi Menangani Pasien di Rumah Sakit
Senin (12/10/2020) pagi, saya membuat keputusan: Karuna harus segera dibawa ke rumah sakit. Saya berusaha menghubungi Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA, dokter spesialis anak (DSA) yang sejak Januari tahun ini menjadi DSA kesayangan kami.
Prof. Miko sudah berusia di atas 60 tahun dan setahu kami para dokter yang sudah berusia di atas 50 tahun tidak lagi menangani pasien di RS selama pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan karena lansia termasuk golongan yang rentan terdampak Covid-19. Saya pun mengirim pesan melalu Whatsapp, menyampaikan kondisi terakhir Karuna dan bertanya apakah beliau masih menangani pasien rawat inap di Eka Hospital BSD atau di RS Permata Pamulang, tempat beliau biasa praktek sebelum pandemi.
Hingga hampir jam 7 pagi, pesan yang saya kirimkan tak kunjung menunjukkan dua tanda contreng. Akhirnya suami saya menelepon Eka Hospital untuk memastikan. Ternyata benar, sejak bulan April Prof. Miko tak lagi menangani pasien di RS. Bila ada pasien beliau yang perlu dirawat inap, dokter lain akan menanganinya.
Membawa Karuna ke instalasi gawat darurat (IGD) di rumah sakit umum yang pasiennya kebanyakan orang dewasa bukan pilihan yang ingin saya ambil. Saya pun memutuskan membawa Runa ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Kemang Medical Care (RSIA Kemang/KMC) di Jakarta Selatan.
Meski ada beberapa RSIA yang lebih dekat dari tempat tinggal kami di Tangerang Selatan, KMC menjadi pilihan karena kami merasa nyaman dengan fasilitas dan pelayanannya. Di sana selalu ada DSA yang praktek dan bisa dihubungi. Tenaga kesehatan di IGDnya pun sangat terlatih menangani pasien anak. Lagipula, saat kami masih tinggal di Jakarta Selatan, Karuna juga pernah beberapa kali kami bawa untuk konsultasi dengan dr. Endah Citraresmi, SpA, sehingga ia sudah memiliki medical record di sana.
Seperti pengalaman sebelumnya, petugas IGD di KMC sigap menyambut kami. Setelah mendengarkan penjelasan kami tentang gejala-gejala yang ditunjukkan Karuna dan melakukan pemeriksaan, dokter mengkonfirmasi bahwa memang benar putri cilik kami telah mengalami dehidrasi dan perlu segera dirawat untuk mendapatkan asupan cairan dan pemeriksaan lebih lanjut. Diduga, Karuna mengalami infeksi bakteri.
Ketika dr. Endah tak bisa segera dihubungi, dokter jaga bertanya apakah kami bersedia bila Karuna dikonsultasikan DSA lainnya, agar Karuna bisa segera mendapat penanganan lebih baik. Beliau mengusulkan nama dr. Margareta Komalasari, SpA, yang pagi itu memang mempunyai jadwal visit pasien dan praktek. Kami setuju. Saya yang percaya bahwa hal-hal seperti ini adalah campur tangan Yang Maha Kuasa, mengiyakan. Karuna memang "berjodoh" untuk ditangani oleh dr. Margareta.
dr. Eta - demikian dr. Margareta biasa dipanggil - bisa langsung dihubungi. Beliau segera memberikan arahan kepada petugas IGD tentang tes diagnostik apa saja yang perlu dilakukan, obat-obatan dan infus apa yang perlu diberikan. Kami mendapat konfirmasi bahwa Karuna perlu akan dirawat inap. Tes darah, tes urine, dan pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen adalah tes diagnostik yang langsung dijadwalkan. Dalam hitungan menit, petugas laboratorium segera datang mengambil sampel darah dan perawat memasang kantong penampung urine. USG dijadwalkan di sore hari.
Wajib Rapid Test
Sebelum pandemi, biasanya alur prosedur rawat inap melalui IGD adalah: pemeriksaan dokter IGD -> diagnosis sementara -> konsultasi ke dokter penanggung jawab -> tindakan –> pendaftaran rawat jalan -> masuk ke ruang rawat inap. Di masa pandemi ini ada tambahan kebijakan dan prosedur: pembatasan jumlah orang yang menunggui pasien, dan rapid test untuk pasien dan orangtua atau orang yang akan menunggui pasien.
“Rencananya berapa orang yang akan menunggui pasien, Bu?”
“Dua, suster. Saya dan ayahnya.”
“Mohon maaf sebelumnya, bu... kalau pasien dirawat di kamar bersama, hanya satu orang yang diperbolehkan menunggu. Tapi kalau nanti putri ibu dirawat di kamar yang untuk satu orang, boleh ditunggui oleh maksimal dua orang", jelas perawat yag bertugas pagi itu dengan santun.
Saya dan suami pun segera memutuskan untuk mengambil kamar di kelas yang memungkinkan kami bersama-sama menemani Karuna.
“Sebelum naik ke lantai 3 (bangsal rawat inap), putri ibu, dan keluarga penunggu pasien harus rapid test dulu ya… bila hasilnya non reaktif, baru diizinkan ke atas.”
Jadilah Karuna orang pertama di keluarga kami yang menjalani rapid test. Dari beberapa vial darahnya yang diambil oleh petugas laboratorium, salah satunya dipakai untuk rapid test. Segera setelah darah Runa diambil, infus pun dipasang.
Dalam 30 menit kami mendapat kabar kalau hasil tes Karuna non reaktif, sehingga dia bisa dirawat inap. Dari sinilah kami baru bisa memulai mengurus administrasi rawat inap.
Saya dan bapaknya Runa pun segera bergantian menuju ke laboratorium untuk menjalani rapid test. Ternyata ada tarif khusus untuk penunggu pasien. Untuk umum, tarif rapid test di KMC adalah Rp. 350.000,- ditambah biaya administrasi Rp. 50.000,- sehingga totalnya mencapai Rp. 400.000,- per orang. Sementara, untuk penunggu pasien rawat inap, tarif yang dikenakan adalah Rp. 250.000,- per orang.
Oiya, penunggu pasien yang diizinkan berada di bangsal rawat inap bukan hanya orangtua atau keluarga dekat. Baby sitter atau orang yang dipekerjakan untuk mengasuh anak yang sakit pun diizinkan, selama telah menjalani rapid test dan hasilnya non reaktif.
Autoimun dan Rapid Test
Sebagai orang dengan penyakit autoimun, sebetulnya saya sempat ragu menjalani rapid test karena tes ini bekerja dengan mendeteksi antibodi IgM dan IgG. Pada penyintas penyakit autoimun, antibodi tersebut sering diperiksa dan seringkali terdeteksi aktivitasnya meskipun kami tidak terinfeksi Covid-19.
Sebelum Covid, hasil tes IgM dan IgG saya hampir selalu reaktif. Berdasarkan pengalaman beberapa teman di support group, hasil rapid test mereka juga reaktif. Tapi, mau tak mau pagi itu saya menjalani rapid test, sembari memberitahu dokter di IGD dan petugas lab bahwa saya penyintas autoimun, sehingga ada kemungkinan hasil reaktif.
Seperti biasa, adalam keadaan seperti itu, rencana cadangan segera tersusun di kepala saya. Kalau sampai rapid test saya reaktif, saya akan segera mengambil tes polymerase chain reaction (PCR) dengan pemberian hasil tercepat yang tersedia, untuk memastikan bahwa saya memang layak untuk menunggui Karuna di lantai 3.
“Di sini ada tes PCR , pak?”
“Ada bu”
“Berapa lama hasilnya keluar?”
“Ada yang 3 sampai 5 hari, ada juga yang bisa selesai dalam 8 jam, bu.”
Duh. 8 jam? Jujur, saya sempat khawatir. Karuna belum pernah berpisah dari saya selama itu. Apalagi dalam kondisi sakit, tak akan mudah bagi Runa melalui waktu di ruang rawat inap tanpa ibunya. Ketika darah diambil untuk rapid test, saya pun berdoa agar hasilnya baik.
30 menit berlalu. Alhamdulillah, hasil rapid test saya dan suami non reaktif, sehingga kami bisa segera memilih kamar dan tak lama kemudian bisa membawa Karuna ke ruang rawat inapnya.
Segera setelah masuk ke ruang rawat inap, perawat yang bertugas meminta lembar hasil pemeriksaan laboratorium dari kami sebagai bukti bahwa tes telah benar dilakukan dan hasilnya baik.
Saya sempat bertanya pada suster, apa jadinya bila ternyata hasil rapid test pasien reaktif.
Jawabnya, “berhubung kami tidak menangani pasien Covid, kalau hasilnya reaktif kami segera rujuk ke rumah sakit lain, Bu...”
Penambahan prosedur rapid test memang membuat waktu tunggu di IGD menjadi sedikit lebih lama. Kurang lebih kami melewatkan 2 jam di sana hingga akhirnya Karuna masuk ke kamar rawat inapnya. Terlepas dari pro-kontra tentang akurasi rapid test, saya meyakini bahwa screening/penapisan seperti ini adalah salah satu langkah penting dalam upaya mengurangi risiko penularan Covid-19 di lingkungan rumah sakit, dan terutama di tempat anak-anak dirawat.
Jadwal Kunjungan, Alat Perlindungan Diri, Hingga Jatah Masker
Selain rapid test, hal lain yang juga berbeda di masa pandemi ini adalah jadwal kunjungan. Bila biasanya ada dua sesi jam berkunjung di pagi dan sore hari, selama pandemi jam berkunjung ditiadakan, dan hanya penunggu pasien yang sudah menjalani rapid test-lah yang diperbolehkan masuk ke area rawat inap.
Beberapa kali dalam sehari ada pengumuman dari petugas RS, yang menyampaikan bahwa KMC menerapkan zero tolerance terhadap Covid-19, dan mengingatkan semua orang yang berada di area RS untuk ikut memutus mata rantai penularan dengan mempraktekkan 3M: menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan.
Dokter-dokter yang bertugas pun memakai alat perlindungan diri ekstra. Penutup kepala dan masker N-95 selalu terpasang rapi di mulut dan hidung dokter spesialis anak (DSA) dan dokter-dokter jaga yang bertugas. Jubah panjang hingga outer berbahan plastik yang keren pun terpasang melindungi tubuh mereka.
Tiap pagi, asisten perawat yang mengirimkan baju ganti dan handuk untuk pasien tak lupa menyertakan dua helai masker sekali pakai untuk para penunggu pasien. Saat keluar kamar, masker wajib terpasang di mulut dan hidung kami.
Di hari keempat, saat kondisi Karuna makin membaik, kami sempat bertanya apakah boleh membawa Runa berjalan-jalan ke taman di lantai dasar. Jawabannya sudah bisa ditebak: tidak. Kami hanya diizinkan berjalan-jalan di area lantai 3.
Mudah Dilaksanakan dan Sebaiknya Diteruskan
Secara keseluruhan, menurut saya protokol pencegahan penularan Covid-19 yang diterapkan untuk pasien dan keluarga di RSIA tempat Karuna dirawat adalah hal yang baik, sangat masuk akal, dan mudah dilaksanakan. Terlepas dari pro-kontra tentang akurasi rapid test, menurut saya pemeriksaan ini tetap diperlukan sebagai salah satu cara untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 pada semua pasien, keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat mereka. Pasien di bangsal rawat inap adalah anak-anak yang sedang sakit dan rentan daya tahan tubuhnya. Sudah sepatutnya segala cara yang memungkinkan dilakukan untuk melindungi mereka. Saya bahkan berpikir, praktek-praktek baik lainnya perlu diteruskan meski wabah Covid sudah berlalu.
Sebagai orang yang sempat sering dirawat di RS, bagi saya pembatasan jam berkunjung adalah salah satu hal yang sebaiknya diteruskan. Dulu, saat dirawat saya sering merasa terganggu dengan betapa banyaknya pasien yang seenaknya memasukkan beberapa anggota keluarga sekaligus sebagai penunggu. Jam berkunjung juga jadi waktu yang paling mengganggu selama dirawat inap, karena banyak sekali pengunjung yang berisik di koridor maupun di ruangan. Di saat tubuh sakit dan hanya ingin istirahat, suara nyaring dan berisik adalah hal yang sangat ingin saya hindari.
Saat dirawat di kamar yang berisi dua pasien, gangguan dari pengunjung atau keluarga penunggu lebih parah lagi. Saya pernah sekamar dengan pasien yang keluarganya seperti tak bisa lepas dari televisi, dan ketika nonton berita, anaknya hampir selalu marah-marah. Pernah pula saya sekamar dengan pasien yang keluarganya selalu ngobrol dengan suara keras, siang malam. Belum lagi anggota keluarga pasien yang usil bertanya sakit apa, kok bisa sakit begitu, sudah nikah atau belum, dan lain-lain. Aduh. ngobrolin hal lain saja yuk Pak/Bu? :D
Praktik 3M: menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan – juga idealnya diteruskan oleh siapapun yang berada di dalam area rumah sakit. Bagaimanapun, RS adalah lokasi yang dipenuhi risiko penularan penyakit. Membiasakan 3M akan selalu baik dilakukan di lingkungan ini.
Alhamdulillah, di hari keempat, kesehatan Karuna sudah makin membaik. Dengan infus masih terpasang di tangan kirinya, ia sudah berlari-lari, bahkan minta main perosotan. :D Jadilah saya dan bapaknya pontang-panting mengikutinya sambil membawa tiang penggantung infus. Di hari kelima, Runa sudah diperbolehkan pulang.
Tidak Perlu Kontrol
"Di masa pandemi ini saya sebisa mungkin mencegah pasien agar tidak perlu ke rumah sakit, Bu... kecuali memang untuk kondisi-kondisi yang memang memerlukan penanganan secepatnya", kata dr. Eta, DSA pintar dan baik hati yang menangani Karuna selama dirawat.
"Putri ibu sudah membaik, masalahnya sudah teratasi, dan yang perlu dilakukan hanya meneruskan obat-obatannya di rumah.", lanjutnya.
Maka, di dokumen kepulangan kami tertera, "tidak perlu kontrol."
Tidak perlu kontrol dokter setelah dirawat inap adalah hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Pandemi memang membuat segala yang "biasanya" menjadi berbeda.
Kami senang sih, bisa pulang dengan lega dan tak perlu membawa anak untuk periksa ke rumah sakit lagi dalam kondisi seperti ini. Lagipula, senyaman-nyamannya rumah sakit, rumah sendiri tetaplah tempat yang paling nyaman untuk beristirahat dan memulihkan diri.
Semoga kita semua sehat selalu, dan semoga acara geret koper dan menginap di luar rumah kami selanjutnya adalah acara liburan dan bersenang-senang saja, ya! Aamin. :)
***



