Ke Dokter Apa Periksa Penyakit Autoimun?

October 07, 2020, by Asri Wijayanti

Lima tahun lalu, ketika mulai tahu tentang penyakit autoimun dan mengalami beberapa gejalanya, langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari dokter yang memiliki keahlian mendiagnosis dan menangani penyakit autoimun. Perjalanan mencari dokter, dan pengalaman bergabung dengan beberapa komunitas pendukung penyintas autoimun akhirnya membuat saya tahu ke mana kita bisa memeriksakan diri saat kita merasa mengalami gejala-gejala penyakit autoimun. Berhubung hingga saat ini pun masih banyak teman atau anggota support group autoimun yang bertanya-tanya ke mana bisa periksa autoimun, maka saya menulis artikel ini.

Pemeriksaan autoimun biasanya dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam dengan sub-spesialisasi berikut:

1. Alergi Imunologi Klinik

Dokter penyakit dalam dengan sub spesialisasi ini memiliki gelar SpPD, K-AI (atau sering juga ditulis sebagai SpPD-KAI) belakang namanya. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi dan imunologi mempunyai keahlian khusus menangani berbagai penyakit akibat alergi dan gangguan imunitas, seperti penyakit autoimun dan kondisi imunodefisiensi, sehingga bisa menjadi tujuan pertama untuk memeriksakan diri. Daftar dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi alergi imunologi klinik di Jakarta dan sekitarnya dapat teman-teman lihat di sini.

Artikel terkait: Dokter Autoimun di Jakarta dan Sekitarnya

2. Reumatologi

Dokter penyakit dalam dengan sub spesialisasi ini memiliki gelar SpPD-KR. Dokter dengan subspesialisasi SpPD-KR memiliki keahlian menangani berbagai masalah kesehatan terkait penyakit sendi, otot, tulang, dan jaringan penyambung seperti tendon. Karena itu, dokter dengan subspesialisasi ini bisa menjadi titik awal untuk memeriksakan diri dan mendapatkan diagnosis, hingga kemudian menangani penyakit autoimun yang menyerang sendi dan otot seperti Rheumatoid Arthritis (RA), Systemic Sclerosis dan Systemic Lupus Erythematosus (SLE).  

Daftar dokter subspesialis reumatologi di seluruh Indonesia beserta alamat mereka berpraktek bisa ditemukan di laman Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Daftar remuatolog berdasarkan nama kota juga tersedia di website tersebut, di halaman Daftar Dokter

3. Hematologi dan Onkologi Medik

Dokter bergelar SpPD-KHOM memiliki keahlian menangani masalah-masalah kesehatan yang berhubungan dengan darah, limpa, dan berbagai jenis kanker. Dokter dengan subspesialisasi ini bisa melakukan diagnosis autoimun sekaligus menangani pasien dengan penyakit autoimun yang berhubungan dengan darah, seperti Anti Phospolipid Syndromme (APS) dan Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).

4. Dokter Spesialis Kulit (SpKK) yang mengerti tentang penyakit autoimun. Untuk penyakit autoimun yang menyerang kulit seperti Psoriasis, dokter yang meyakini bahwa psoriasis lebih dari sekedar masalah di kulit biasanya akan mampu menangani psoriasis dengan lebih teliti. Bahkan, berdasarkan pengalaman pribadi saya, konsultasi dengan Prof. DR. dr. Benny Wiryadi SpKK(K) - seorang dokter kulit senior yang mendalami psoriasis - lah yang membuat saya mendengar tentang penyakit autoimun untuk pertama kalinya. Prof. Benny jugalah yang pertama kali merunut riwayat kesehatan saya dan menyampaikan bahwa saya punya risiko memiliki penyakit-penyakit autoimun lainnya.  

Beragamnya gejala dan gangguan kesehatan yang bisa muncul pada tubuh orang dengan autoimun (ODAI) kerap membuat seorang ODAI perlu berkonsultasi dengan lebih dari satu dokter. 

Pemeriksaan autoimun bisa melibatkan beberapa dokter sekaligus.
Ilustrasi foto: Pixabay

Setelah diagnosis autoimun ditegakkan, ada kemungkinan kita juga akan dirujuk ke dokter-dokter dengan keahlian yang lebih spesifik. Misalnya, saat kondisi autoimun saya masih parah dan dokter SpPD-KAI yang merawat saya menemukan ada masalah pada jantung, syaraf, mata dan sendi, beliau merujuk saya ke dokter spesialis jantung, spesialis syaraf, spesialis mata, dokter penyakit dalam subspesialis reumatologi. Saya juga diminta menjalani fisioterapi yang dipandu oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (SpKFR). 

Ketika kemudian ditemukan bahwa saya juga memiliki penyakit autoimun Anti Phospolipid Syndromme (APS), saya kemudian juga ditangani oleh dokter penyakit dalam dengan subspesialisasi hematologi dan onkologi medik. 

Bagaimana cara menemukan dokter-dokter dengan subspesialisasi ini?

Selain reumatolog, yang daftarnya sudah tersedia lengkap di laman Perhimpunan Reumatologi Indonesia, kita bisa mencari dokter-dokter dengan sub spesialisasi SpPD-KAI dan SpPD-KHOM dengan cara;

1. Mencari melalui Google, dengan memasukkan kata kunci subspesialisi dan nama kota. Misalnya: "dokter SpPD KHOM di Surakarta" .

2. Mencari di website rumah sakit atau menelepon rumah sakit dan menanyakan apakah ada dokter dengan subspesialisasi yang dituju berpraktek di sana. 

Sepengetahuan saya, biasanya dokter-dokter dengan subspesialisasi SpPD-KAI, SpPD-KR dan SpPD-KHOM memang hanya ditemukan di rumah sakit di kota-kota yang cukup besar, atau di rumah sakit provinsi, sehingga teman-teman ODAI yang berasal dari kota atau pulau yang jauh dari kota besar terpaksa harus menempuh perjalanan cukup panjang untuk memeriksakan diri. 

Di tulisan selanjutnya, saya akan mencoba membuat daftar nama dokter-dokter yang menangani penyakit autoimun dan tempat praktek mereka, yang semoga bisa lebih membantu siapapun yang sedang mencarinya. :)

*****

2 comments

  1. Baru tahu saya tentang penyakit itu, makasih infonya bund

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mas Maulana, semoga informasinya bermanfaat... karena ternyata penyakit autoimun masih belum dikenal banyak orang, berarti sepertinya saya masih perlu menulis sedikit penjelasan penyakit autoimun itu apa dan bagaimana gejalanya ya? Terimakasih banyak ya, sudah berkunjung. :)

      Delete

Instagram