Lanjutan dari Dua Tahun Menjadi Ibu - Bagian 1
Buku Bebas Takut Hamil dan Melahirkan tulisan bidan Yesie Aprilia saya buka-buka kembali. Buku itu termasuk dalam daftar barang yang kami kemas untuk dibawa di koper persiapan persalinan.
Tiap kontraksi datang dan perasaan tidak nyaman datang, saya memejamkan mata, mempraktekkan teknik bernafas untuk relaksasi dan membisikkan afirmasi positif ke pikiran saya dan kepada Karuna.
 |
Buku andalan sejak trimester pertama hingga detik-detik menjelang persalinan
|
Ini semua hasil belajar tentang gentle birth: persalinan yang lembut, nyaman, dan ramah jiwa sejak trimester pertama. Banyak yang salah kaprah, mengira gentle birth identik dengan water birth alias persalinan di dalam air. Padahal, konsep-konsep gentle birth juga bisa berlaku pada para wanita yang menjalani operasi caesar.
Di ruang operasi, saya ditangani oleh dokter-dokter senior yang unik dan perawat yang super ceria. Bulu matanya cetar. Eyelash extension yang rapi membuat matanya yang ramah tampak makin berbinar meski bertugas pagi-pagi sekali. :)
Dokter kandungan sub spesialis fetomaternal senior yang jadi tempat rujukan kami sejak usia kehamilan 7 bulan memimpin operasi pagi itu. Sembari membolak-balik folder rekam medis saya, dengan gayanya yang santai beliau bertanya, "Buuu ngapain sih ketubannya dipecah-pecahin segala? Sebentar lagi operasi yaa"
Saking terbiasanya dengan gaya beliau, saya cuma tertawa sambil menimpali, "ketubannya pecah sendiri kali, dok!"
Untung saya bukan orang yang baperan dan tidak dalam kondisi panik atau sedih. Coba kalau saya belum belajar gentle birth. Mungkin saya akan tersinggung atau menangis kesal karena komentar itu.
Selama ini saya hanya bertemu dr. N di ruang praktek. Beliau baik dan pintar, tapi sebagai pasiennya, kadang saya merasa harus ekstra tabah mendengar komentar atau pendapatnya.
Pagi itu, beberapa jam sebelum kelahiran Karuna, saya baru tahu kalau suster memanggilnya dengan sebutan "Bro"!. Baiklah bro, mari kita bantu Karuna menyapa dunia dengan bahagia. 😄
Tak lama sebelum operasi dimulai, saya sedikit berdandan supaya bisa menyambut Karuna dengan wajah segar. Rio, suami saya, diminta berganti baju. Rio yang akan mendampingi saya di ruang operasi tersenyum-senyum senang tapi nervous di pakaian sterilnya. Kami menyiapkan kamera mirrorless kecil, yang rencananya akan dipakai untuk merekam proses kelahiran Karuna. Sebelum masuk ruang operasi, saya masih sempat memotret beberapa hal. Menyenangkan rasanya, mau lahiran masih sempat tertawa-tawa. Oiya, Ingatkan saya ya, nantinya saya akan membuat tulisan khusus tentang mendokumentasikan persalinan, yang semoga bisa jadi catatan penting bagi para bapak yang ingin mendokumentasikan proses kelahiran anaknya. 😁
 |
| Calon bapak sudah siap menemani ke ruang operasi :) |
Dari ruang observasi ke ruang operasi, waktu terasa berlalu sangat cepat. "Allahu akbar, telah lahir seorang anak perempuan di jam... (dr. N tertegun sesaat, sembari melihat jam)... tujuh kurang sedikit." Saya masih tertawa mengingat bagaimana dokter menyebutkan waktu kelahiran anak kami. "Jam tujuh kurang sedikit" itu akhirnya ditulis sebagai pukul 06:58 di surat keterangan lahir Karuna.
Mendengar tangisan pertama Karuna, dan memeluknya untuk pertama kali adalah pengalaman yang sulit diungkapkan dengan satu kata. Ia begitu mungil, lembut, dan membuat hati saya membuncah penuh cinta.
Lega, bahagia, haru, bersyukur, penuh cinta, mungkin adalah kumpulan kata yang cukup layak - meski tak cukup sempurna untuk menjabarkan perasaan saya pagi itu.
Inisiasi menyusui dini (IMD) dilakukan segera setelah ia terlahir dan memastikan kondisinya sehat. Saat itu saya masih terbaring di meja operasi dan dokter-dokter (sepertinya) masih sibuk menjahit perut saya. "Assalammualaikum Nak, ini ibu..." adalah sapaan pertama saya untuknya di dunia. Matanya terpejam, namun hidung dan mulut mungilnya begitu cepat mengenali aroma tubuh ibunya dan mulai menunjukkan refleks menyusu. Pagi itu adalah pagi terindah yang pernah terjadi dalam hidup saya.
Tak lama setelah IMD, kami berpisah ruang. Proses menjahit sayatan operasi sudah selesai. Saya akan dipindah ke ruang transit, sementara Karuna ke ruang perawatan bayi. Dokter anestesi yang sudah sepuh memutar lagu Kemesraan dengan volume keras di akhir prosedur operasi. Kata suster, memang begitulah kebiasaan beliau.
Beliau menyanyi, saya pun ikut menyanyi hingga anestesi yang diberikan saat perut dijahit perlahan mengantar saya terlelap. Kalimat dari lirik lagu itu, "hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu..." terekam indah di kepala. Saya ingat, saya tersenyum sebelum semuanya menjadi gelap.
Masa-masa mengandung Karuna yang dilabeli sebagai "kehamilan berisiko tinggi." oleh para dokter pun telah berlalu. Kelahiran Karuna menyudahi masa kehamilan yang saya jalani dengan banyak pertanyaan dan kadang kekhawatiran. Proses persalinan itu berlangsung sebahagia yang saya rencanakan dan bayangkan, bahkan mungkin lebih. Semua detailnya lancar, dan dengan dokter-dokter unik yang melangsungkannya, persalinan saya jadi punya cerita-cerita lucu.
Di hari Minggu pagi itu, Karuna terlahir 3 minggu lebih awal dari hari perkiraan kelahirannya. Diagnosa
intra uterine growth restriction (IUGR) yang kami terima sejak trimester ketiga membuat kami memang siap menerima bahwa ia terlahir dengan berat badan lahir 2,51 kilogram saja. Meski mungil, tangisan pertamanya yang lantang sempat membuat saya takjub. Saya tak pernah menyangka tangisan Karuna begitu nyaring.😄
APGAR Score Karuna 8. Tubuhnya lengkap. Semua refleksnya baik.
Alhamdulillah, ya Rabb...
Sekitar jam 3 sore, saat saya sudah sadar dan kaki saya sudah bisa digerakkan, Karuna kembali ke pelukan saya, dan kami terus bersama sejak saat itu hingga hari ini. Selama dua tahun ini kami memang hampir tak pernah berpisah.
Pilihan saya untuk melahirkan di rumah sakit yang memiliki kebijakan rooming in (ibu dan bayi yang baru dilahirkan tinggal/dirawat dalam satu kamar) adalah keputusan yang menyenangkan sekaligus menegangkan. 🤣 Menyenangkan karena saya bisa terus bersama Karuna, dan menegangkan karena saya sama-sekali belum tahu apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan ketika Karuna menangis. Kami berulangkali memencet bel, memanggil perawat dengan pertanyaan, "Suster, anak saya nangis. Kenapa ya?" 😅
Meski bekas jahitan di perut luar biasa rasanya, proses belajar mengASIhi Karuna terus berjalan. Posisi menyusui di hari pertama adalah berbaring miring dengan Karuna di sisi kanan saya. Para perawat yang bertugas telaten memandu dan membantu kami. Mereka mengamati dan membenahi perlekatan Karuna, memberi tips agar refleks menghisap Karuna makin terstimulasi. Alhamdulillah, kolostrum mengalir lancar, bahkan sampai bisa dipompa.
"Ibu makan apa sih, sampai ASI-nya bisa lancar sekali?" tanya beberapa perawat. Saya tidak tahu pasti, tapi mungkin rasa bahagia dan cold-pressed juice kesukaan saya - yang terbuat dari buah dan sayur, membuat tubuh saya semangat memproduksi ASI untuk Karuna. Melihat Karuna yang terlelap setelah menyusui, rasanya bahagia sekali.
Di malam pertama bersama Karuna di samping saya, saya tidak bisa tidur. Saya memandanginya terus-terusan. Bahkan ketika mengantuk pun, saya kembali membuka mata, ingin memandangi dan membelainya lagi. Suster jaga yang menjenguk saya sampai mengingatkan, "tidur bu... besok harinya masih panjang. Mumpung ibu masih di rumah sakit, banyak yang membantu, sempatkan istirahat."
Keesokan harinya, melihat saya yang tampak kurang tidur, perawat menawarkan agar Karuna dipindah sebentar sebentar ke ruang perawatan bayi, supaya saya bisa beristirahat. Perawat mengajari saya memakai breast pump. ASI perah pertama saya menjadi bekal selama ia di sana. Saat itu, saya betul-betul belum sadar kalau istirahat cukup nantinya jadi hal yang tidak terjadi ketika menjadi seorang ibu baru. 😆